HR. AS’AD SYAMSUL ARIFIN
KH R. As’ad Syamsul Arifin lahir di mekkatal mukarromah pada tahun
1897, beliau di boyong oleh ayahandanya ketika belum genah umur 11
tahun, sesampainya di tanah air tepat di Kembang Kuning Pamekasan Madura
dan tidak lama dari kepulangannya dari Mekkah, beliau bersama Keluarga
besar KHR Syamsul Arifin hijrah ke Asembagus Situbondo dan membuka Ponok
Pesantren baru di Sukorejo.
Pada masa mudanya, KH R. As’ad muda menghabiskan masa lajangnya di
berbagai pondok pesantren di pulau jawa. Beberapa PONPES yang pernah
beliau tempati dalam mengais ilmu agama, antara lain PP Demangan
Bangkalan asuhan KH. Cholil, PP Panji, Buduran, PP Tetango Sampang, PP
Sidogiri Pasuruan, PP Tebu Ireng Jombang dan berbnagai PONPES lainnya di
Pulau Jawa dan Madura.
Setelah malang melintang di berbagai pesantren beliau melanjutkan
studinya ke Makkatal Mukarromah dan disana beliau berguru kepada
Ulama’-ulama besar seperti Sayyid Muhammad Amin Al-Qutby, Syekh Hasan
Al-Massad, Sayyid Hasan Al-Yamani dan Syekh Abbas Al-Maliki, serta
beberapa ulama besar lainnya.
KHR. AS’AD SYAMSUL ‘ARIFIN DAN NAHDLOTUL ULAMA
Belum lengkap rasanya cerita NU tanpa peranan ulama besar ini, KHR.
As’ad adalah sosok kyai yang dari awal telah menganut paham-paham ahl
al-sunnah wa al-jama’ah dan selalu menghiasi kehidupan dalam
kesehariannya dengan budaya-budaya ke-NU an.
Saat menjadi santri KH. Cholil bangkalan, Kyai As’ad muda menjadi santri
kesayangan gurunya sehingga pada masa dimana terjadi peralihan
Perkumpulan Ulama dalam “ Komite HIjaz “ menjadi “jam’iyah” Kyai As’ad
muda menjadi satu-satunya mediator dalam penyampaian isyaroh KH. Cholil
kepada KH. Hasyim As’ari Jombang. Beliau diutus oleh Kyai Cholil pada
tahun 1924 beliau menyampaikan satu tongkat disertai Surat Thoha ayat 17
s/d 23, pada tahun 1925 beliau kembali di utus menyampaikan hasil
istikhoroh gurunya kepada KH. Hasyim As’ari, beliau kembali kejombang
dengan seuntai tasbih dan bacaan ya jabber, ya qohhar 3x.
Pada tahun 1945, ketika Laskar Hisbullah dibentuk Kyai As’ad langsung
bergabung dan memimpin pasukan bergerilya di daerah besuki dan
sekitarnya. Uniknya, pasukan yang beliau pimpin adalah bara mantan
bajingan, mereka dihimpun dalam barisan pelopor yang kemudian engambil
peran dalam perjuangan kemerdekaan dan penumpasan PKI di Situbondo 1965.
Setelah pemilu 1955, Kyai As’ad menjadi anggota konstituante sampai
tahun 1959. setelah Lembaga itu di bubarkan oleh Bung Karno beliau tidak
banyak beraktivitas di bidang politik.
Pada tahun 1971, Kyai As’ad menjadi DPRD KAbupaten Situbondo dan pada
tahun 1977 beliau mendukun PPP karena NU saat itu mendukung PPP.
Selain itu, Kyai As’ad merupakan salah satu diantara sekian ulama
yang selalu menjembati persoalan-persoalan yang terjadi antara
pemerintah dan umat islam, khususnya warga NU. Sikapnya yang tegas
dantangkas sertabijaksana, beliaiu mampu memainkan perannya sebagai
ulama’ NU (pengayom Masyarakat) sekaligus sebagai politisi yang arif.
Kebijakan-kebijakan kembali dibuktikan pada tahun 1982 mengenai
masalah mata pelajaran PMP yang menjadi kontrofersi antara umat islam
dan pemerintah, tanpa banyak bicara beliau langsung menemui presiden
soeharto dan menunjukan beberapa hal yang mestinya dikoreksi, tidak
beberapa lama, dalam tahun itu juga PMP yang menuai kontrofersi tersebut
direvisi dan disempurnakan oleh pemerintah.
Begitu pula ketika terjadi konflik antara Muslimin Indonesia vs NU
dalam tubuh PPP dan rencana pemerintah memberlakukan Pancasila sebagai
satu-satunya azas Organisasi Sosial, Politik maupun kemasyarakatan,
tiba-tiba di PP Salafiyah Syafi’iyah berkumpul ratusan Ulama’ NU untuk
mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) yang berlangsung pada tanggal
18-21 Desember 1983. ketika semua Ormas Islam benyak menolak azas
pancasila, justru Munas menerimanya dan menganggapnya tidak bertentangan
dengan aqidah islam dan Munas tersebut memutuskan mengembalikan NU
kegaris dan landasan asalnya, yang kemudian popular dengan istilah
kembali ke khittah 1926. inilah sebagian dari peran Kyai As’ad dalam
memulihkan keutuhan NU dan Umat Islam di Negara ini.
Beliau juga dengan Kearifannya pernah melakukan mufaroqoh pada saat
kepemimpinan NU dibawah KH. Abdurrahman Wahid, karena dirasakan sebagai
ketua telah melenceng, yang kemudian beliau mengubaratkan imam shalat
telah kentut. Peristiwa ini terjadipada Muktamnar NU ke-28 di Krepyak,
Yokyakarta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar