Minggu, 22 Maret 2015

PROFIL KHR AS’AD SYAMSUL ARIFIN

HR. AS’AD SYAMSUL ARIFIN
KH R. As’ad Syamsul Arifin lahir di mekkatal mukarromah pada tahun 1897, beliau di boyong oleh ayahandanya ketika belum genah umur 11 tahun, sesampainya di tanah air tepat di Kembang Kuning Pamekasan Madura dan tidak lama dari kepulangannya dari Mekkah, beliau bersama Keluarga besar KHR Syamsul Arifin hijrah ke Asembagus Situbondo dan membuka Ponok Pesantren baru di Sukorejo.
Pada masa mudanya, KH R. As’ad muda menghabiskan masa lajangnya di berbagai pondok pesantren di pulau jawa. Beberapa PONPES yang pernah beliau tempati dalam mengais ilmu agama, antara lain PP Demangan Bangkalan asuhan KH. Cholil, PP Panji, Buduran, PP Tetango Sampang, PP Sidogiri Pasuruan, PP Tebu Ireng Jombang dan berbnagai PONPES lainnya di Pulau Jawa dan Madura.
Setelah malang melintang di berbagai pesantren beliau melanjutkan studinya ke Makkatal Mukarromah dan disana beliau berguru kepada Ulama’-ulama besar seperti Sayyid Muhammad Amin Al-Qutby, Syekh Hasan Al-Massad, Sayyid Hasan Al-Yamani dan Syekh Abbas Al-Maliki, serta beberapa ulama besar lainnya.
KHR. AS’AD SYAMSUL ‘ARIFIN DAN NAHDLOTUL ULAMA
Belum lengkap rasanya cerita NU tanpa peranan ulama besar ini, KHR. As’ad adalah sosok kyai yang dari awal telah menganut paham-paham ahl al-sunnah wa al-jama’ah dan selalu menghiasi kehidupan dalam kesehariannya dengan budaya-budaya ke-NU an.
Saat menjadi santri KH. Cholil bangkalan, Kyai As’ad muda menjadi santri kesayangan gurunya sehingga pada masa dimana terjadi peralihan Perkumpulan Ulama dalam “ Komite HIjaz “ menjadi “jam’iyah” Kyai As’ad muda menjadi satu-satunya mediator dalam penyampaian isyaroh KH. Cholil kepada KH. Hasyim As’ari Jombang. Beliau diutus oleh Kyai Cholil pada tahun 1924 beliau menyampaikan satu tongkat disertai Surat Thoha ayat 17 s/d 23, pada tahun 1925 beliau kembali di utus menyampaikan hasil istikhoroh gurunya kepada KH. Hasyim As’ari, beliau kembali kejombang dengan seuntai tasbih dan bacaan ya jabber, ya qohhar 3x.
Pada tahun 1945, ketika Laskar Hisbullah dibentuk Kyai As’ad langsung bergabung dan memimpin pasukan bergerilya di daerah besuki dan sekitarnya. Uniknya, pasukan yang beliau pimpin adalah bara mantan bajingan, mereka dihimpun dalam barisan pelopor yang kemudian engambil peran dalam perjuangan kemerdekaan dan penumpasan PKI di Situbondo 1965.
Setelah pemilu 1955, Kyai As’ad menjadi anggota konstituante sampai tahun 1959. setelah Lembaga itu di bubarkan oleh Bung Karno beliau tidak banyak beraktivitas di bidang politik.
Pada tahun 1971, Kyai As’ad menjadi DPRD KAbupaten Situbondo dan pada tahun 1977 beliau mendukun PPP karena NU saat itu mendukung PPP.
Selain itu, Kyai As’ad merupakan salah satu diantara sekian ulama yang selalu menjembati persoalan-persoalan yang terjadi antara pemerintah dan umat islam, khususnya warga NU. Sikapnya yang tegas dantangkas sertabijaksana, beliaiu mampu memainkan perannya sebagai ulama’ NU (pengayom Masyarakat) sekaligus sebagai politisi yang arif.
Kebijakan-kebijakan kembali dibuktikan pada tahun 1982 mengenai masalah mata pelajaran PMP yang menjadi kontrofersi antara umat islam dan pemerintah, tanpa banyak bicara beliau langsung menemui presiden soeharto dan menunjukan beberapa hal yang mestinya dikoreksi, tidak beberapa lama, dalam tahun itu juga PMP yang menuai kontrofersi tersebut direvisi dan disempurnakan oleh pemerintah.
Begitu pula ketika terjadi konflik antara Muslimin Indonesia vs NU dalam tubuh PPP dan rencana pemerintah memberlakukan Pancasila sebagai satu-satunya azas Organisasi Sosial, Politik maupun kemasyarakatan, tiba-tiba di PP Salafiyah Syafi’iyah berkumpul ratusan Ulama’ NU untuk mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) yang berlangsung pada tanggal 18-21 Desember 1983. ketika semua Ormas Islam benyak menolak azas pancasila, justru Munas menerimanya dan menganggapnya tidak bertentangan dengan aqidah islam dan Munas tersebut memutuskan mengembalikan NU kegaris dan landasan asalnya, yang kemudian popular dengan istilah kembali ke khittah 1926. inilah sebagian dari peran Kyai As’ad dalam memulihkan keutuhan NU dan Umat Islam di Negara ini.
Beliau juga dengan Kearifannya pernah melakukan mufaroqoh pada saat kepemimpinan NU dibawah KH. Abdurrahman Wahid, karena dirasakan sebagai ketua telah melenceng, yang kemudian beliau mengubaratkan imam shalat telah kentut. Peristiwa ini terjadipada Muktamnar NU ke-28 di Krepyak, Yokyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar